konversi agama 3

3. Proses Konversi Agama
Perubahan yang terjadi tetap melalui tahapan yang sama dalam bentuk
kerangka proses secara umum, kerangka proses itu dikemukakan antara lain oleh:
Carrier (dalam Ramayulis, 2002), membagi proses tersebut dalam
tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Terjadi desintegrasi sintesis kognitif (kegoncangan jiwa) dan motivasi
sebagai akibat dari krisis yang dialami.
b. Reintegrasi (penyatuan kembali) kepribadian berdasarkan konsepsi
agama yang baru. Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian
baru yang berlawanan dengan struktur yang lama.
c. Tumbuh sikap menerima konsepsi (pendapat) agama yang baru serta
peranan yang di tuntut oleh ajarannya.
d. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan
suci petunjuk Tuhan.
Daradjat (1979) memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses
kejiwaan yang terjadi melalui 5 tahap, yaitu:
a. Masa tenang, disaat ini kondisi seseorang berada dalam keadaan yang
tenang karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. Terjadi semacam
sikap apriori (belum mengetahui) terhadap agama. Keadaan yang demikian
dengan sendirinya tidak akan mengganggu keseimbangan batinnya, hingga ia
berada dalam keadaan tenang dan tentram. Segala sikap dan tingkah laku dan
sifat-sifatnya acuh tak acuh atau menentang agama.
b. Masa ketidaktenangan, tahap ini berlangsung jika masalah agama telah
mempengaruhi batinnya. Mungkin di karenakan suatu krisis, musibah ataupun
perasaan berdosa yang di alami. Hal tersebut menimbulkan semacam
kegoncangan dalam kehidupan batin sehingga menyebabkan kegoncangan yang
berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, panik, putus asa, ragu, tegang dan
bimbang. Perasaan tersebut menyebabkan seseorang lebih sensitif dan hampirhampir
putus asa dalam hidupnya dan mudah terkena sugesti. Pada tahap ini
terjadi proses pemilihan terhadap ide atau kepercayaan baru untuk mengatasi
konflik batinnya.
c. Masa konversi, tahap ketiga ini terjadi setelah konflik batin mengalami
keredaan karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan
menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya
rasa pasrah. Keputusan ini memberikan makna dalam menyelesaikan pertentangan
batin yang terjadi, hidup yang tadinya seperti dilamun ombak atau di porak
porandakan oleh badai topan persoalan, tiba-tiba angin baru berhembus, sehingga
terciptalah ketenangan dalam bentuk kesediaan menerima kondisi yang dialami
sebagai petunjuk ilahi. Karena disaat ketenangan batin itu terjadi dilandaskan atas
suatu perubahan sikap kepercayaan yang bertentangan dengan sikap kepercayaan
sebelumnya, maka terjadilah proses konversi agama.
d. Masa tenang dan tentram, masa tenang dan tentram yang kedua ini
berbeda dengan tahap yang sebelumnya. Jika pada tahap pertama keadaan itu
dialami karena sikap yang acuh tak acuh, maka ketenangan dan ketentraman pada
tahap ketiga ini di timbulkan oleh kepuasan terhadap keputusan yang sudah di
ambil. Ia timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap
sebagai pernyataan menerima konsep baru. Setelah krisis konversi lewat dan masa
menyerah di lalui, maka timbullah perasaan atau kondisi jiwa yang baru, rasa
aman dan damai di hati, tiada lagi dosa yang tidak diampuni Tuhan Yang Maha
Esa, tidak ada kesalahan yang patut di sesali, semuanya telah lewat, segala
persoalan menjadi mudah dan terselesaikan. lapang Dada, menjadi pemaaf dan
dengan mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain.
e. Masa ekspressi konversi, sebagai ungkapan dari sikap menerima,
terhadap konsep baru dari ajaran agama yang diyakininya, maka tindak tanduk
dan sikap hidupnya diselaraskan dengan ajaran dan peraturan agama yang dipilih
tersebut. Pencerminan ajaran dalam bentuk amal perbuatan yang serasi dan
relevan sekaligus merupakan pernyataan konversi agama itu dalam kehidupan.
Menurut Wasyim (dalam Sudarno, 2000) secara garis besar membagi
proses konversi agama menjadi tiga, yaitu:
a. Masa Gelisah (unsert), kegelisahan atau ketidaktenangan karena adanya
gap antara seseorang yang beragama dengan Tuhan yang di sembah. Ditandai
dengan adanya konflik dan perjuangan mental aktif.
b. Adanya rasa pasrah
c. Pertumbuhan secara perkembangan yang logis, yakni tampak adanya
realisasi dan ekspresi konversi yang dialami dalam hidupnya.
Dari uraian di atas maka dapat di simpulkan bahwa tahapan atau proses
konversi agama meliputi (a) masa tenang (b) masa ketidaktenangan (c) masa
konversi (d) masa tenang dan tentram (e) masa ekspressi konversi.

Advertisements

konversi agama 2

2. Faktor-Faktor Penyebab Konversi Agama
Penido (dalam Ramayulis, 2002), berpendapat bahwa konversi agama
mengandung dua unsur:
a. Unsur dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang
terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini
membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan
oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang di ambil seseorang berdasarkan
pertimbangan pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi
dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengan proses
tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.
b. Unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal
dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau
kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang berasal dari luar ini kemudian
menekan pengaruhnya terhadap kesadaran mungkin berupa tekanan batin,
sehingga memerlukan penyelesaian oleh yang bersangkutan.
Sedangkan berbagai ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor
yang manjadi pendorong konversi (Motivasi konversi). James dan Heirich (dalam
Ramayulis, 2002), banyak menguraikan faktor yang mendorong terjadinya
konversi agama tersebut menurut pendapat dari para ahli yang terlibat dalam
berbagai disiplin ilmu, masing-masing mengemukakan pendapat bahwa konversi
agama di sebabkan faktor yang cenderung didominasi oleh lapangan ilmu yang
mereka tekuni.
Para ahli agama menyatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong
terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supernatural berperan
secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau
kelompok.
Para ahli sosiologi berpendapat bahwa yang menyebabkan terjadinya
konversi agama karena pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong
terjadinya konversi itu terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:
a. Pengaruh hubungan antara pribadi baik pergaulan yang bersifat
keagamaan maupun non agama (kesenian, ilmu pengetahuan, ataupun bidang
keagamaan yang lain).
b. Pengaruh kebiasaan yang rutin. Pengaruh ini dapat mendorong seseorang
atau kelompok untuk berubah kepercayaan jka dilakukan secara rutin hingga
terbiasa. Misal, menghadiri upacara keagamaan.
c. Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat,
misalnya: karib, keluarga, famili dan sebagainya.
d. Pengaruh pemimpin keagamaan. Hubungan yang baik dengan pemimpin
agama merupakan salah satu pendorong konversi agama.
e. Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi. Perkumpulan yang
dimaksud seseorang berdasarkan hobinya dapat pula menjadi pendorong
terjadinya konversi agama.
f. Pengaruh kekuasaan pemimpin. Yang dimaksud disini adalah pengaruh
kekuasaan pemimpin berdasarkan kekuatan hukum. Misal, kepala Negara, raja.
Pengaruh-pengaruh tersebut secara garis besarnya dapat dibagi menjadi
dua, yaitu pengaruh yang mendorong secara pesuasif (secara halus) dan pengaruh
yang bersifat koersif (memaksa).
Para ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa yang menjadi pendorong
terjadinya konversi agama adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor
intern maupun faktor ekstern. Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi
seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin,
maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam
kondisi jiwa yang demikian itu secara psikologis kehidupan seseorang itu menjadi
kosong dan tak berdaya sehingga ia mencari perlindungan kekuatan lain yang
mampu memberinya kehidupan jiwa yang tenang dan tentram.
Dalam uraiannya James (dalam Ramayulis, 2002) yang berhasil meneliti
pengalaman berbagai tokoh yang mengalami konversi agama menyimpulkan
sebagai berikut:
a. Konversi terjadi karena adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat
kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk
suatu ide yang bersemi secara mantap.
b. Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara
mendadak (tanpa suatu proses).
Kemudian James (dalam Ramayulis, 2002) mengembangkan menjadi
tipe Volitional (perubahan bertahap), konversi agama ini terjadi secara berproses
sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan
rohaniah yang baru. Konversi yang demikian itu terjadi sebagai suatu proses
perjuangan batin yang ingin menjauhkan diri dari dosa karena ingin
mendatangkan suatu kebenaran. Kedua, tipe Self-Surrender (perubahan drastis),
konversi agama tipe ini adalah konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang
tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap
suatu agama yang dianutnya. Pada konversi agama tipe kedua ini James (dalam,
Ramayulis, 2002) mengakui adanya pengaruh petunjuk dari Yang Maha Kuasa
terhadap seseorang, karena gejala konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri
seseorang sehingga ia menerima kondisi yang baru dengan penyerahan jiwa
sepenuh-penuhnya.
Masalah-masalah yang menyangkut terjadinya konversi agama tersebut
berdasarkan tinjauan psikologi tersebut yaitu dikarenakan beberapa faktor antara
lain:
a. Faktor Intern meliputi, pertama, Kepribadian. Secara psikologis tipe
kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehiduan jiwa seseorang. Dalam
penelitiannya, James (dalam Ramayulis, 2002) menemukan bahwa tipe
melankolis (orang yang bertipe melankolis memiliki sifat mudah sedih, mudah
putus asa, salah satu pendukung seseorang melakukan konversi agama adalah jika
seseorang itu dalam keadaan putus asa) yang memiliki kerentanan perasaan lebih
mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya. Kedua,
faktor pembawaan. Menurut Sawanson (dalam Ramayulis, 2002) ada semacam
kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak sulung dan
anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak-anak yang
dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stress jiwa, karena pada
umumnya anak tengah kurang mendapatkan perhatian orangtua. Kondisi yang
dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya
konversi agama.
b. Faktor Ekstern meliputi, pertama faktor keluarga. keretakan keluarga,
ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang
mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan alinnya. Kondisi yang demikian
menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga sering terjadi
konversi agama dalam usahanya untuk meredakan tekanan batin yang menimpa
dirinya. Kedua, Lingkungan tempat tinggal. Orang yang merasa terlempar dari
lingkungan tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat merasa
dirinya hidup sebatang kara. Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang
mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung hingga
kegelisahan batinnya hilang. Ketiga, Perubahan status. Perubahan status terutama
yang berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya
konversi agama, misalnya: perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan,
perubahan pekerjaan, menikah dengan orang yang berbeda agama dan sebagainya.
Keempat, Kemiskinan. Kondisi sosial ekonomi yang sulit juga merupakan faktor
yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama.
Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konversi agama
dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan
argumentasi bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama.
Walaupun belum dapat dikumpulkan data secara pasti tentang pengaruh lembaga
pendidikan terhadap konversi agama namun berdirinya sekolah-sekolah yang
bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.
Menurut Daradjat (1986), faktor-faktor terjadinya konversi agama
meliputi:
a. Pertentangan batin (konflik jiwa) dan ketegangan perasaan, orang-orang
yang gelisah, di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang-kadang
dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problema, itu mudah
mengalami konversi agama. Di samping itu sering pula terasa ketegangan batin,
yang memukul jiwa , merasa tidak tenteram, gelisah yang kadang-kadang terasa
tidak ada sebabnya dan kadang-kadang tidak diketahui. Dalam semua konversi
agama, boleh dikatakan, latar belakang yang terpokok adalah konflik jiwa
(pertentangan batin) dan ketegangan perasaan, yang mungkin disebabkan oleh
berbagai keadaan.
b. Pengaruh hubungan dengan tradisi agama, diantara faktor-faktor penting
dalam riwayat konversi itu, adalah pengalaman-pengalaman yang
mempengaruhinya sehingga terjadi konversi tersebut. Diantara pengaruh yang
terpenting adalah pendidikan orang tua di waktu kecil mempunyai pengaruh yang
besar terhadap diri orang-orang, yang kemudian terjadi padanya konflik konversi
agama, adalah keadaan mengalami ketegangan yang konflik batin itu, sangat tidak
bisa, tidak mau, pengalaman di waktu kecil, dekat dengan orang tua dalam
suasana yang tenang dan aman damai akan teringat dan membayang-bayang
secara tidak sadar dalam dirinya. Keadaan inilah yang dlam peristiwa-peristiwa
tertentu menyebabkan konversi tiba-tiba terjadi. Faktor lain yang tidak sedikit
pengaruhnya adalah lembaga-lembaga keagamaan, masjid-masjid atau gerejagereja.
Melalui bimbingan lembaga-lembaga keagamaan itu, termasuk salah satu
faktor penting yang memudahkan terjadinya konversi agama jika pada umur
dewasanya ia kemudian menjadi acuh tak acuh pada agama dan mengalami
konflik jiwa atau ketegangan batin yang tidak teratasi.
c. Ajakan/seruan dan sugesti, banyak pula terbukti, bahwa diantara
peristiwa konversi agama terjadi karena pengaruh sugesti dan bujukan dari luar.
Orang-orang yang gelisah, yang sedang mengalami kegoncangan batin, akan
sangat mudah menerima sugesti atau bujukan-bujukan itu. Karena orang-orang
yang sedang gelisah atau goncangan jiwanya itu, ingin segera terlepas dari
penderitaannya, baik penderitaan itu disebabkan oleh keadaan ekonomi, sosial,
rumah tangga, pribadi atau moral.
d. Faktor-faktor emosi, orang-orang yang emosionil (lebih sensitif atau
banyak dikuasai oleh emosinya), mudah kena sugesti, apabila ia sedang
mengalami kegelisahan. Kendatipun faktor emosi, secara lahir tampaknya tidak
terlalu banyak pengaruhnya, namun dapat dibuktikan bahwa, emosi adalah salah
satu faktor yang ikut mendorong kepada terjadinya konversi agama, apabila ia
sedang mengalami kekecewaan.
e. Kemauan, kemauan yang dimaksudkan adalah kemauan seseorang itu
sendiri untuk memeluk kepercayaan yang lain
Selain faktor-faktor diatas, Sudarno (2000) menambahkan empat faktor
pendukung, yaitu:
a. Cinta, cinta merupakan anugrah yang harus dipelihara, tanpa cinta hidup
tidak akan menjadi indah dan bahagia, cinta juga merupakan salah satu fungsi
sebagai psikologi dan merupakan fitrah yang diberikan kepada manusia ataupun
binatang yang banyak mempengaruhi hidupnya, seseorang dapat melakukan
konversi agama karena dilandaskan perasaan cinta kepada pasangannya.
b. Pernikahan, adalah salah suatu perwujudan dari perasaan saling
mencintai dan menyayangi.
c. Hidayah
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang
kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikendaki-
Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”
(QS. Al-Qasas:56)
“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk,
niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang
siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya
sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah
menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al An’am: 125)
Ayat-ayat Al-Qur’an diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
bagaimanapun usaha orang untuk mempengaruhi seseorang untuk mengikuti
keyakinannya, tanpa ada kehendak dari Allah SWT tidak akan bias. Manusia
diperintah oleh Allah SWT untuk berusaha, namun jangan sampai melawan
kehendak Allah SWT dengan segala pemaksaan.
d. Kebenaran agama, menurut Djarnawi (Sudarno, 2000) agama yang benar
adalah yang tepat memilih Tuhannya, tidak keliru pilih yang bukan Tuhan
dianggap Tuhan. Kebenaran agama yang dimaksud tidak karena paksaan, bujukan
dari orang lain, akan tetapi lewat kesadaran dan keinsyafan antara lain melalui
dialog-dialog, ceramah, mempelajari literatur, buku-buku dan media lain.
Dari uraian di atas maka dapat di simpulkan bahwa faktor penyebab
konversi agama pertama, faktor Intern, meliputi kepribadian, emosi, kemauan,
konflik jiwa, kebenaran agama, hidayah. kedua, faktor ekstern, meliputi, faktor
keluarga, lingkungan tempat tinggal, pengaruh hubungan dengan tradisi agama,
cinta, pernikahan.

Konversi Agama 1

1. Pengertian Konversi Agama
Konversi agama (religious conversion) secara umum dapat di artikan
dengan berubah agama ataupun masuk agama. Menurut Thouless (1992), konversi
agama adalah istilah yang pada umumnya diberikan untuk proses yang menjurus
kepada penerimaan suatu sikap keagamaan, proses itu bisa terjadi secara
berangsur-angsur atau secara tiba-tiba.
Pengertian konversi agama menurut etimologi konversi berasal dari kata
latin “conversio” yang berarti tobat pindah, berubah (agama). Selanjutnya kata
tersebut dipakai dalam kata Inggris “conversion” yang mengandung pengertian:
berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama ke agama lain (change from
one state, or from one religion, to another). Berdasarkan arti kata-kata tersebut
dapat di simpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat,
berubah agama, berbalik pendirian (berlawanan arah) terhadap ajaran agama atau
masuk ke dalam agama.
Ada beberapa pendapat tentang pengertian konversi agama antara lain:
a. Heirich (dalam Ramayulis, 2002) mengatakan bahwa konversi agama
adalah merupakan suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang
masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan
dengan kepercayaan sebelumnya.
b. James (dalam Ramayulis, 2002) mengatakan konversi agama adalah
dengan kata kata:
“to be converted, to be regenerated, to recive grace, to experience religion,
to gain an assurance, are so many phrases which denote to the process,
gradual or sudden, by which a self hitherro devide, and consciously wrong
inferior and unhappy, becomes unified and consciously right superior and
happy, in consequence of its firmer hold upon religious realities”.
“berubah, digenerasikan, untuk menerima kesukaan, untuk menjalani pengalaman
beragama, untuk mendapatkan kepastian adalah banyaknya ungkapan pada proses
baik itu berangsur-angsur atau tiba-tiba, yang di lakukan secara sadar dan
terpisah-pisah, kuran bahagia dalam konsekuensi penganutnya yang berlandaskan
kenyataan beragama”.
c. Clark (dalam Daradjat, 1979), memberikan definisi konversi sebagai
berikut: konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan
spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap
terhadap ajaran dan tindak agama. Lebih jelas dan lebih tegas lagi, konversi
agama menunjukan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat
hidayah Allah SWT secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat
mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara
berangsur-angsur.
Ciri-ciri seseorang melakukan konversi agama, menurut Ramayulis
(2002) adalah
a. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap
agama dan kepercayaan yang dianutnya.
b. Perubahan yang terjadi di pengaruhi kondisi kejiwaan sehingga
perubahan dapat terjadi secara berperoses atau secara mendadak.
c. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan
dari suatu agama ke agama lain tetapi juga termasuk perubahan pandangan
terhadap agama yang di anutnya sendiri.
d. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun
disebabkan faktor petunjuk dari yang maha kuasa.
Menurut Moqsith (http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/),
jenis-jenis konversi agama di bedakan menjadi dua, yaitu:
a. Konversi internal, terjadi saat seseorang pindah dari mazhab dan
perspektif tertentu ke mazhab dan perspektif lain, tetapi masih dalam lingkungan
agama yang sama.
b. Konversi eksternal, terjadi jika seseorang pindah dari satu agama ke
agama lain.
Menurut Abdalla (http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/),
senada dengan apa yang telah di ungkapkan Moqsith, konversi internal terjadi
dalam satu agama, dalam artian pola pikir dan pandang seseorang berubah, ada
yang dihilangkan dan tidak menutup kemungkinan banyak yang ditambahkan
(ibadah), tetapi konsep ketuhanan tetap sama. Sedangkan dalam konversi
eksternal pindah keyakinan ke konsep yang benar-benar berbeda dengan konsep
keyakinan sebelumnya.
Dari uraian di atas maka dapat di simpulkan bahwa pengertian konversi
agama adalah merupakan suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok
orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau perilaku ke sistem
kepercayaan yang lain.