Abstrak : Pengaruh Pelatihan Relaksasi Religius untuk Mengurangi Gangguan Insomnia

Peneliti : Setiyo Purwanto, Siti Zulaekah

1. PENDAHULUAN

A. Rumusan Masalah

Tidur adalah suatu fenomena biologis yang terkait dengan irama alam semesta, irama sirkadian yang bersiklus 24 jam, terbit dan terbenamnya matahari, waktu malam dan siang hari, tidur merupakan kebutuhan manusia yang teratur dan berulang untuk menghilangkan kelelahan jasmani dan kelelahan mental (Panteri, 1993).

Makna tidur menurut Prawirohusodo (1990) ada tiga hal : (a) Fase dalam (deep body sleep) berfungsi memberi kesempatan kepada organ-organ tubuh untuk restorasi, membuang limbah mengeluarkan hormon, metabolisme rendah hingga merupakan untuk istirahat jasmani dan pemulihan tenaga. (b). Fase tidur REM (rapid eye movement), fase ini memiliki 2 fungsi : mempertahankan tidur dalam dan memberi kesempatan untuk beristirahat dari, berfikir, merencana, gelisah, fikiran cemas. (c) fase mengantuk yang merupakan permulaan tidur, mempunyai komponen tidur dalam dan REM. Hal ini memberi kesempatan individu untuk berasosiasi bebas, dalam arti pengembaraan dalam dunia fantasi dan non realistis.

Tidur merupakan bagian hidup manusia yang memiliki porsi banyak, rata-rata hampir seperempat hingga sepertiga waktu digunakan untuk tidur. Tidur merupakan kebutuhan bukan suatu keadaan istirahat yang tidak bermanfaat, tidur merupakan proses yang diperlukan oleh manusia untuk pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak (natural healing mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh. Mass, 2002).

Penelitian terhadap kelompok anak-anak muda di Denpasar menunjukkan 30-40 persen aktivitas mereka untuk tidur. Dalam jajak pendapat yang dilakukan Galup terhadap orang dewasa di Amerika menyebutkan bahwa 49% menderita gangguan insomnia dan beberapa gangguan lain yang berkaitan dengan tidur (Mass 1998). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh di Jepang disebutkan 29 % responden tidur kurang dari 6 jam, 23 % merasa kekurangan dalam jam tidur 6 % menggunakan obat tidur, kemudian 21 % memiliki prevalensi insomnia dan 15 % kondisi mengantuk yang parah pada siang harinya. (Liu, 2000).

Survei epidemiologi yang dilakukan oleh Melinger (Morin, 1992. Lacks, 1992) menunjukkan bahwa 35% dari populasi diindikasikan mengalami insomnia selama satu tahun terakhir, dan 10% mengalami gangguan insomnia 6 bulan terakhir. Dari survei tersebut juga disimpulkan bahwa wanita, orang yang lebih dewasa, dan mereka yang memiliki sosial ekonomi yang rendah lebih banyak mengalami gangguan tidur.

Kurang tidur dapat membahayakan bagi diri kita dan orang lain. Seseorang yang kurang tidur lalu mengemudi mobil sendiri sering mengalami kecelakaan fatal. Kurang tidur, dapat pula mengakibatkan masalah dalam keluarga dan perkawinan, karena kurang tidur dapat membuat orang cepat marah dan lebih sulit diajak bergaul (Parmet, 2003). Bila tidur kurang lelap, maka kita akan merasa letih, lemah, dan lesu pada saat bangun.

Kesulitan tidur atau insomnia adalah keluhan tentang kurangnya kualitas tidur yang disebabkan oleh satu dari; sulit memasuki tidur, sering terbangun malam kemudian kesulitan untuk kembali tidur, bangun terlalu pagi, dan tidur yang tidak nyenyak. Insomnia tidak disebabkan oleh sedikitnya seseorang tidur, karena setiap orang memiliki jumlah jam tidur sendiri-sendiri. (Edinger, 2000).

Menurut National Institute of Health (1995) Insomnia atau gangguan sulit tidur dibagi menjadi tiga yaitu insomnia sementara (intermittent) terjadi bila gejala muncul dalam beberapa malam saja. Insomnia jangka pendek (transient) bila gejala muncul secara mendadak tidak sampai berhari-hari, kemudian insmonia kronis (Chronic) gejala susah tidur yang parah dan biasanya disebabkan oleh adanya gangguan kejiwaan. Penyebab insomnia intermitten dan transient antara lain stress, kebisingan, udara yang terlalu dingin atau terlalu panas, tidur tidak di tempat biasanya, berubahnya jadwal tidur dan efek samping dari obat-obatan. Sedangkan insomnia yang kronik disebabkan oleh beberapa faktor terutama secara fisik dan mental disorder.

Penyembuhan terhadap insomnia tergantung dari penyebab yang menimbulkan insomnia. Bila penyebabnya adalah kebiasaan yang salah atau lingkungan yang kurang kondusif untuk tidur maka terapi yang dilakukan adalah mengubah kebiasaan dan lingkungannya. Sedangkan untuk penyebab psikologis maka konseling dan terapi relaksasi dapat digunakan untuk mengurangi gangguan sulit tidur, terapi ini merupakan bentuk terapi psikologis yang mendasarkan pada teori-teori behavioris.

Treatmen yang sering dilakukan untuk mengurangi insomnia umumnya dilakukan dengan memakai obat tidur. Namun pemakaian yang berlebihan membawa efek samping kecanduan, bila overdosis dapat membahayakan pemakainya (Coates, 2001). Pemakaian obat-obatan inipun bila tidak disertai dengan perbaikan pola makan, pola tidur serta penyelesaian penyebab psikologis, maka obat-obatan hanya dapat mengatasi gangguan yang bersifat sementara dan tidak menyembuhkan (Shawan, 2000. Coates, 2001).

Dalam literatur psikologi salah satu terapi perilaku (behavior therapy) adalah terapi relaksasi (Dewi, 1998). Terapi ini sudah banyak digunakan baik untuk penurunan ketegangan, atau mencapai kondisi tenang (Utami, 1993). Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Jacobson dan Wolpe menunjukkan bahwa relaksasi dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan (Wallace, 1971. Beech dkk, 1982).

Dasar pikiran relaksasi adalah sebagai berikut. Relaksasi merupakan pengaktifan dari syaraf parasimpatetis yang menstimulasi turunnya semua fungsi yang dinaikkan oleh sistem syaraf simpatetis, dan menstimulasi naiknya semua fungsi yang diturunkan oleh syaraf simpatetis. Masing-masing syaraf parasimpatetis dan simpatetis saling berpengaruh maka dengan bertambahnya salah satu aktivitas sistem yang satu akan menghambat atau menekan fungsi yang lain (Utami, 1993). Ketika seseorang mengalami gangguan tidur maka ada ketegangan pada otak dan otot sehingga dengan mengaktifkan syaraf parasimpatetis dengan teknik relaksasi maka secara otomatis ketegangan berkurang sehingga seseorang akan mudah untuk masuk ke kondisi tidur.

Berbagai macam bentuk relaksasi yang sudah ada adalah relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera, relaksasi meditasi, yoga dan relaksasi hipnosa (Utami, 1993). Dari bentuk relaksasi di atas belum pernah dimunculkan kajian tentang bentuk relaksasi religius. Relaksasi religius ini merupakan pengembangan metode respon relaksasi dengan melibatkan faith factor dari Benson. Menurut Benson (2000) formula-formula tertentu yang dibaca berulang-ulang dengan melibatkan unsur keimanan kepada agama, kepada Tuhan yang disembah akan menimbulkan respon relaksasi yang lebih kuat dibandingkan dengan sekedar relaksasi tanpa melibatkan unsur keyakinan terhadap hal tersebut.

Relaksasi religius merupakan penggabungan teknik relaksasi dengan memasukkan faktor keyakinan. Pada penelitian ini unsur keyakinan yang akan dipergunakan dalam intervensi adalah unsur keyakinan agama Islam. Unsur keyakinan yang dimasukkan dalam penelitian ini adalah penyebutan Allah secara berulang-ulang yang disertai dengan sikap pasrah. Metode relaksasi ini sejauh pengetahuan penulis belum pernah dilakukan terutama untuk intervensi terhadap gangguan insomnia, sehingga penelitian ini ditujukan untuk melihat lebih jauh tentang efektifitas terapi relaksasi religius untuk mengurangi gangguan insomnia. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah model terapi relaksasi terutama untuk mengatasi gangguan insomnia. Relaksasi religius sebagai sebuah terapi dapat menjadi referensi untuk mengurangi insomnia terutama bagi mereka yang memiliki keyakinan agama Islam, selain itu hasil penelitian ini dapat digunakan untuk pengembangan psikologi Islam.

Permaslahan penelitian yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah apakah pelatihan relaksasi dapat berpengaruh terhadap penurunan gangguan insomnia.

 

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini betujuan untuk menguji efektifitas terapi relaksasi religius dalam mengurangi gangguan insomnia

C. Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini dapat menambah model terapi relaksasi terutama untuk mengatasi gangguan insomnia. Relaksasi religius sebagai sebuah terapi dapat menjadi referensi untuk mengurangi insomnia terutama bagi mereka yang memiliki keyakinan agama Islam, selain itu hasil penelitian ini dapat digunakan untuk pengembangan psikologi Islam.

D. Tinjauan Pustaka

Menurut Panteri (1993) neourofisiologi tidur, dapat digambarkan sebagai tahapan-tahapan tidur dengan poligrafi tidur yaitu electroenchepalograph (EEG), electrocardiograph (ECG), electromiograph (EMG). Pada saat berbaring dalam keadaan masih terjaga ditunjukkan dengan gelombang otak beta yang bercirikan frekuensi yang cepat yaitu lima belas hingga dua puluh putaran perdetik dan bertegangan rendah yaitu kurang dari lima puluh mikrovolt. Selanjutnya dalam keadaan yang lelah dan siap tidur mulai untuk memejamkan mata, pada saat ini gelombang otak yang muncul mulai melambat frekwensinya, meninggi tegangannya dan menjadi lebih teratur. Gelombang ini dinamakan gelombang alpha yang memiliki 8 hingga 12 putaran per detik yang menggambarkan keadaan santai, tidak tegang tapi terjaga.

Setelah beberapa menit dalam keadaan alpha kecepatan napas mulai melambat. Ini adalah transisi tidur awal (tidak nyenyak) yang ditandai oleh gelombang theta 50 hingga 100 mikrovolt, 4 hingga 8 putaran perdetik. Dalam keadaan permulaan tidur ini denyut jantung melambat dan menjadi stabil, napas menjadi pendek-pendek dan teratur. Tahap ini dapat berlangsung dari sepuluh detik hingga 10 menit dan kadang disertai dengan citra visual yang disebut halusinasi hipnagogik, karena otot rangka tiba-tiba mengendur, dan kadang mengalami sensasi seperti jatuh, yang menyebabkan terbangun sebentar dengan gerakan yang menyentak, keadaan ini dinamakan tidur tahap pertama.

Tidur tahap kedua ditandai dengan gelombang otak theta dengan disertai munculnya gelombang tunggal dengan amplitudo tinggi dan munculnya sleep spidle (jarum tidur, karena terlihat di monitor atau kertas perekam yang menunjukkan aktivitas otak). Pada tahap ini gerakan dan ketegangan otot menurun berlangsung sekitar 10 hingga 20 menit menandai permulaan tidur yang sebenarnya. Pada tahap ini seseorang biasanya tidak dapat merespon rangsang dari luar, dan rata-rata bila seseorang dibangunkan pada tahap ini akan merasa betul-betul telah tertidur.

Tahap selanjutnya setelah 20–30 menit adalah memasuki tahap ketiga yaitu kombinasi theta dan delta (tegangan tinggi dengan frekuensi sangat rendah). Segera setelah tahap ke tiga ini dilanjutkan dengan tahap ke empat yaitu hilangnya sama sekali gelombang theta dan tinggal yang ada gelombang delta dengan 0,5 – 2 putaran perdetik, amplitudo 100 – 200 mikrovolt. Dalam tidur delta ini relaksasi otot terjadi sepenuhnya, tekanan darah menurun, denyut nadi dan pernafasan melambat. Pasokan darah ke otak berada pada batas minimal.

Kondisi tidur normal ini tidak selamanya dirasakan oleh seseorang yang akan memasuki tidur. Gangguan dan kesulitan tidur seringkali mengganggu baik ketika memasuki tahap pertama tidur ataupun ketika tidur berlangsung. Gangguan ini dapat terjadi karena adanya permasalahan psikis maupun fisik, yang dapat menimbulkan kesulitan seseorang untuk memasuki keadaan tenang. Keadaan cemas yang berlebihan akan menyebabkan otot-otot tidak dapat relaks dan pikiran tidak terkendali.

Gangguan tidur yang sering muncul dapat digolongkan menjadi 4 yaitu : (1) insomnia; gangguan masuk tidur dan mempertahankan tidur, (2) hypersomnia; gangguan mengantuk atau tidur berlebihan, (3) disfungsi kondisi tidur seperti somnabolisme, night teror, dan (4) gangguan irama tidur.

Insomnia berasal dari kata in artinya tidak dan somnus yang berarti tidur, jadi insomnia berarti tidak tidur atau gangguan tidur. Selanjutnya dijelaskan bahwa insomnia ada tiga macam, yaitu Pertama, Initial Insomnia artinya gangguan tidur saat memasuki tidur. Kedua, Middle Insomnia yaitu terbangun di tengah malam dan sulit untuk tidur lagi. Ketiga, Late Insomnia yaitu sering mengalami gangguan tidur saat bangun pagi (Hawari, 1990). Menurut Hoeve (1992), insomnia merupakan keadaan tidak dapat tidur atau terganggunya pola tidur. Orang yang bersangkutan mungkin tidak dapat tidur, sukar untuk jatuh tidur, atau mudah terbangun dan kemudian tidak dapat tidur lagi. Hal ini terjadi bukan karena penderita terlalu sibuk sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk tidur, tetapi akibat dari gangguan jiwa terutama gangguan depresi, kelelahan, dan badan dengan gejala kecemasan yang memuncak.

Insomnia adalah ketidakmampuan atau kesulitan untuk tidur. Kesulitan tidur ini bisa menyangkut kurun waktu (kuantitas) atau kelelapan (kualitas) tidur. Penderita insomnia sering mengeluh tidak bisa tidur, kurang lama tidur, tidur dengan mimpi yang menakutkan, dan merasa kesehatannya terganggu. Penderita insomnia tidak dapat tidur pulas walaupun diberi kesempatan tidur sebanyak-banyaknya.
Pada keadaan normal, dari pemeriksaan kegiatan otak melalui electroenchepalograph (EEG), sepanjang masa tidur terjadi fase-fase yang silih berganti antara tidur sinkronik dan tidur asinkronik. Pergantian ini kira-kira setiap dua jam sekali. Fase tidur sinkronik ditandai dengan tidur nyenyak, dengan tubuh dalam keadaan tenang. Fase tidur asinkronik ditandai dengan kegelisahan dan reaksi-reaksi jasmaniah lainnya, seperti gerakan-gerakan bola mata yang merupakan fase mimpi. Orang normal, yang tidurnya diganggu pada fase asinkronik akan merasa jengkel, tidak puas, dan menjadi murung (schenck, 2003).

Penderita insomnia mengalami gangguan dalam masa peralihan dan kualitas dari fase-fase tidur, terutama pada fase asinkronik. Dari penelitian ternyata bahwa saat yang dianggap penderita sebagai terjaga di malam hari sebenarnya merupakan fase-fase mimpi. Sebaliknya, beberapa masa tidur yang singkat sebenarnya merupakan tidur yang sesungguhnya

Insomnia dikelompokkan dalam tiga tipe. Tipe pertama adalah penderita yang tidak dapat atau sulit tidur selama 1 sampai 3 jam pertama, namun karena kelelahan akhirnya tertidur juga. Tipe ini biasanya dialami penderita usia muda yang sedang mengalami kecemasan. Tipe kedua, dapat tidur dengan mudah dan nyenyak, namun setelah 2 sampai 3 jam tidur terbangun. Kejadian ini bisa berlangsung berulang kali. Tipe ketiga, penderita dapat tidur dengan mudah dan nyenyak, namun pada pagi buta dia terbangun dan tidak dapat tidur lagi. Ini biasa dialami orang yang sedang mengalami depresi.

The Diagnostic and Statistical of Mental Disorder (DSM-IV) mendefinisikan gangguan insomnia adalah keluhan tentang kesulitan mengawali tidur dan/atau menjaga keadaan tidur atau keadaan tidur yang tidak restoratif minimal satu bulan terakhir (Espie, 2002).

Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini (Liu, 1999).

Relaksasi adalah salah satu teknik di dalam terapi perilaku yang pertama kali dikenalkan oleh Jacobson, seorang psikolog dari Chicago, yang mengembangkan metode fisiologis melawan ketegangan dan kecemasan. Teknik ini disebut relaksasi progresif yaitu teknik untuk mengurangi ketegangan otot. Jacobson berpendapat bahwa Semua bentuk ketegangan termasuk ketegangan mental didasarkan pada kontraksi otot (Sheridan dan Radmacher, 1992). Jika seseorang dapat diajarkan untuk merelaksasikan otot mereka, maka mereka benar-benar relaks. Seseorang yang tetap mengalami ketegangan mental atau emosional, sementara otot mereka relaks adalah orang yang mengalami ketegangan semu (Sheridan dan Radmacher, 1992). Latihan relaksasi dapat digunakan pada pasien nyeri untuk mengurangi rasa nyeri melalui kontraksi otot, mengurangi pengaruh dari situasi stres, dan mengurangi efek samping dari kemoterapi pada pasien kanker (Sheridan dan Radmacher, 1992). Relaksasi dapat juga digunakan untuk mengurangi denyut jantung, meningkatkan daya hantar kulit (skin conductance), mengurangi ketegangan otot, tekanan darah dan kecemasan (Taylor, 1995).

Relaksasi religius merupakan pengembangan dari respon relaksasi yang dikembangkan oleh Benson (2000), dimana relaksasi ini merupakan gabungan antara relaksasi dengan keyakinan agama yang dianut. Dalam metode meditasi terdapat juga meditasi yang melibatkan faktor keyakinan yaitu meditasi transendental (trancendental meditation). Meditasi ini dikembangkan oleh Mahes Yogi (Sothers, 1989) dengan megambil objek meditasi frase atau mantra yang diulang-ulang secara ritmis dimana frase tersebut berkaitan erat dengan keyakinan yang dianut.

Fokus dari relaksasi ini tidak pada pengendoran otot namun pada frase tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah kepada objek transendensi yaitu Tuhan. Frase yang digunakan dapat berupa nama-nama Tuhan, atau kata yang memiliki makna menenangkan.

Pelatihan relaksasi bertujuan untuk melatih peserta agar dapat mengkondisikan diri untuk mencapai kondisi relaks. Pada waktu individu mengalami ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sistem saraf simpatis, sedangkan pada waktu relaksasi yang bekerja adalah sistem saraf parasimpatis, dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan cara resiprok, sehingga timbul counter conditioning dan penghilangan.

Dari uaraian diatas dapat ditarik sebuah hipotesis bahwa pelatihan relaksasi religius dapat mengurangi gangguan insomnia


Proses munculnya insomnia dan penurunannya dapat dilihat Gambar di bawah ini :

Simpatik

Parasimpatik

Insomnia

Insomnia

Terapi

Relaksasi

Religius

Stressor:

Psikis

 

Biologis

                     
 
     

 

Tidur

    Simpatik
 
 
 
   
 
 
   

 

 

 

 

Gambar 2. Dinamika terapi relaksasi untuk mengurangi gangguan insomnia

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini terdiri dari dua variabel pertama, relaksasi religius yaitu relaksasi yang disusun dengan melibatkan unsur religius yang berupa pengulangan frase penyebutan terhadap Tuhan, pasrah kepada Tuhan, serta doa kepada Tuhan. Model relaksasi ini menggunakan model dari Herbert Benson dan telah dimodifikasi oleh peneliti untuk disesuaikan dengan karateristik subjek.

Kedua, insomnia yaitu suatu keadaan ketidaknyamanan dalam tidur dan akibat yang ditimbulkanya dalam 1 bulan terakhir, yaitu kesulitan memasuki tidur, terbangun dan tidak dapat tidur kembali, bangun terlalu pagi, dan kelelahan setelah bangun tidur. Tingkat gangguan insomnia ini diukur dengan skala insomnia, semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi pula gangguan insomnia yang dialami, demikian pula sebaliknya.

.Penelitian ini mengambil subjek mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berjumlah 22 mahasiswa yang dibagi menjadi 2 kelompok 12 kelompok eksperimen dan 10 kelompok kontrol. Kriteria subjek penelitian ini adalah lolos dalam screning insomnia, mahasiswa UMS, beragama islam, dan bersedia mengikuti jalannya pelaithan.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :skala insomnia alat tulis, papan tulis, dan OHP, kaset dan tape recorder, catatan pemantauan diri, screening test insomnia. Penelitian ini dibagi dalam 6 kali pertemuan, pada pertemuan kelompok eksperimen diberikan materi insomnia dan relaksasi kemudian praktek relaksasi. Pertemuan ke 2 hingga 6 evaluasi ketika praktek dirumah dan praktek relaksasi. Pada penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen pretest – postest group design.

Format rancangan eksperimennya adalah sebagai berikut :

Jenis perlakuan

Pre test

Perlakuan

Post test

Kelompok relaksasi religius

Y1

X1

Y2

Kelompok kontrol

Y1

-X

Y2

Gambar. Rancangan Eksperimen

 

Keterangan :

Y1 : Pengukuran tingkat insomnia sebelum perlakuan

Y2 : Pengukuran tingkat insomnia setelah perlakuan

X1 : Perlakuan terapi relaksasi religius

-X : Tanpa perlakuan

3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji U Mann-Whitney terbukti bahwa perbedaan rerata gainskor sebelum dan sesudah pretest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berbeda sangat signifikan 4.000 dengan p<0,01. Hasil analisis data ini menunjukkan hipotesis yang diajukan terbukti, bahwa ada pengaruh pelatihan relaksasi religius terhadap penurunan gangguan insomnia. Hasil penelitian ini didukung dengan catatan harian bahwa ada peningkatan kualitas tidur subjektif, artinya bahwa subjek merasakan keadaan tidur yang lebih baik selama mengikuti pelatihan.

Gangguan insomnia terjadi karena adanya ketegangan otot, ketika seorang mengalami stres maka beberapa otot akan mengalami ketegangan. Aktifnya saraf simpatis tersebut membuat orang tidak dapat santai atau relaks sehingga tidak dapat memunculkan rasa kantuk. Melalui relaksasi subjek dilatih untuk dapat memunculkan respon relaksasi sehingga dapat mencapai keadaan tenang. Respon relaksasi ini terjadi melalui penurunan bermakna dari kebutuhan zat oksigen oleh tubuh, selanjutnya otot-otot tubuh yang relaks menimbulkan perasaan tenang dan nyaman. Aliran darah akan lancar, neurotransmiter penenang akan dilepaskan dan sistem saraf akan bekerja secara baik (Benson, 2000).

Insomnia pada umumnya disebabkan oleh faktor biologis dan psikologis kedua hal ini menjadi stresor sehingga mengaktifkan saraf simpatis, penelitian ini memang tidak melihat jenis stresor yang dimiliki oleh subjek karena relaksasi bersifat umum dan dapat digunakan untuk jenis stresor baik fisik ataupun psikis. Demikian pula pelibatan unsur religi dalam terapi ini tidak hanya berpengaruh pada unsur psikis namun juga unsur fisik juga terpengaruh. Ketika melakukan penyerahan diri kepada Tuhan maka baik unsur fisik dan psikis juga diserahkan kepada Tuhan sehingga keadaan relaks yang sudah dicapai lebih membuat relaks.

Pelatihan relakasi religius cukup efektif untuk memperpendek waktu dari mulai merebahkan hingga tertidur dan mudah memasuki tidur. Hal ini membuktikan bahwa relaksasi religius yang dilakukan dapat membuat lebih relaks sehingga keadaan kesulitan ketika mengawali tidur dapat diatasi dengan treatmen ini. Penggunaan kaset relaksasi religius cukup membantu subjek dalam mengawali tidur. Pada umumnya subjek melaporkan bahwa dengan mengikuti kaset relaksasi dirinya lebih mudah untuk tertidur, ada beberapa hal yang menyebabkan mereka mudah tertidur antara lain instruksi diucapkan dengan pelan dan mudah diikuti.

Pelatihan relaksasi dapat memunculkan keadaan tenang dan relaks dimana gelombang otak mulai melambat semakin lambat akhirnya membuat seseorang dapat beristirahat dan tertidur. Hal ini sesuai dengan pendapat Panteri (1993) yang menggambarkan neurofisiologi tidur sebagai berikut : Pada saat berbaring dalam keadaan masih terjaga seseorang berada pada gelombang otak beta, hal ini terjadi ketika subjek mulai merebahkan diri tidur dan mengikuti instruksi relaksasi religius yaitu pada tahap pengendoran otot dari atas yaitu kepala hingga jari jari kaki. Selanjutnya dalam keadaan yang lelah dan siap tidur mulai untuk memejamkan mata, pada saat ini gelombang otak yang muncul mulai melambat frekwensinya, meninggi tegangannya dan menjadi lebih teratur. Pada tahap ini subjek mulai merasakan relaks dan mengikuti secara pasif keadaan relaks tersebut hingga muncul rasa kantuk.

Dalam keadaan permulaan tidur ini denyut jantung melambat dan menjadi stabil, napas menjadi pendek-pendek dan teratur. Tahap ini kadang disertai dengan citra visual yang disebut halusinasi hipnagogik, karena otot rangka tiba-tiba mengendur, dan kadang mengalami sensasi seperti jatuh, yang menyebabkan terbangun sebentar dengan gerakan yang menyentak, keadaan ini dinamakan tidur tahap pertama.

Kemudahan dalam mengawali tidur ini juga berdampak pada lama tidur, dengan tidur lebih awal dari biasanya dan masa memasuki tidur yang lebih pendek secara langsung akan memperlama jam tidur subjek, hal ini terlihat dalam gambar 3 bahwa lama tidur semakin bertambah selama mengikuti pelatihan relaksasi ini. Lama tidur memang bukan suatu ukuran standar apakah seseorang harus tidur 8 jam atau tidak, namun bagi penderita insomnia peningkatan lama tidur cukup berarti bagi subjek. Subjek merasa dengan bertambahnya jam tidur paling tidak dapat mengatasi permasalahan yang selama ini dialami oleh subjek. Demikian pula dengan mudahnya tidur dan berkurangnya lama memasuki tidur dapat mengurangi stres subjek tentang ketidakbisaan mengawali tidur, karena stres tidak bisa tidur menjadi ketegangan tersendiri bagi subjek yang seringkali menyebabkan subjek semakin tidak bisa tidur.

 

4. SIMPULAN

Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa penurunan tingkat insomnia yang lebih tinggi pada kelompok eksperimen dibanding dengan kelompok kontrol, kemudian setelah diberi perlakuan kelompok eksperimen mengalami penurunan tingkat insomnia

 


5. PERSANTUNAN

Kami ucapkan terimkasih kepada Bp Rektor Universitas Muhammdiyah Surakarta serta kepada Ketua Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta atas dukungannya sehingga penelitian ini dapat terlaksana.

 

 


Daftar Pustaka

Benson, H.M.D., 2000. Dasar-dasar Respon Relaksasi: Bagaimana menggabungkan respon Relaksasi dengan Keyakinan Pribadi Anda (terjemahan). Bandung: Mizan

 

____________., 2000. Respon Relaksasi: Teknik Meditasi Sederhana dan Untuk Mengatasi Tekanan Hidup (terjemahan). Bandung: Mizan

 

Chopra, D., 2003, Tidur Nyenyak Mengapa Tidak? (Terjemahan). Ikon : Yogyakarta

 

Coates, T.J., 2001, Mengatasi Gangguan Tidur Tanpa Obat (Terjemahan). Pioner Jaya : Bandung

 

Espie. C.A. 2002.Insomnia : Conceptual Issue in the Development, Persistence, and Treatment of Sleep Disorder in Adult. Annual Reviews 53:215-43

 

Goldfried, M.R. and Trier, C.S., 1974. Effectivesness of Relaxation as an Active Coping Skill. Journal of Abnormal Psychology, 83, 4, 348-355

 

Lacks. P., Morin. C,. 1992. Recent Advances in the Assessment and Treatment of Insomnia. Journal of Consulting and Clinical Psychology Vol 60. No. 4, 586-594.

 

Lichstein, KL., Johnson, RS., 1993. Relaxation for Insomnia and Hypnotic Medication Use in Older Women. Psychology and Aging vol 8 No. 1 103-111

 

Liu. Xianchen. Uchiyama. Makoto. Kim, Keiko. Okawa. Masako, Shibui. Kayo, Kudo. Yoshihisa, Doi,. 2000. Sleep Loss and Day Time Sleepiness in the General Adult Population of Japan Psychiatric research 93 1-11

Mass, J.B., 2000, Power Sleep (Terjemahan) Kaifa : Jakarta

 

Panteri, I G P., 1993, Gangguan Tidur Insomniadan Terapinya, Suatu Kajian Pustaka. Majalah Ilmiah Unud th XX No 37

 

Prawitasari, J.E., 1988. Pengaruh Relaksasi terhadap Keluhan Fisik: Suatu Studi Eksperimental. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM

 

Public Health Service. 1995. NIH Publication No. 95-3801. www.nhlbi.nih.gov

 

Purwanto, S. 2004. Efektifitas Pelatihan Relaksasi untuk Mengurangi Gangguan Insomnia pada Mahasiswa Psikologi UMS. Laporan Penelitian. Surakarta : UMS

 

Schneider. DL,. 2002. Insomnia ; Safe and Effective Therapy for Sleep Problems in The Older Patient. Article Geriatris Vol 57, No 5.

Sheridan , C.L. And Radmacher, S.A. 1992. Health Psychology, Challenging the Biomendical Model. New York: John Wiley and Sons.

 

Soresso, D. (tanpa tahun) Produced by The Sleep Research Laboratory. www.internethealthlibrary.com. Chicago :the University of Chicago.

 

Testimony of Herbert Benson before the US House of Representatives, November 1997, Role of the Mind in Physical Healing and Health. American Psychological Association http://www.apa.org/ppo/benson.hmtl

 

Utami, M.S. 1993. Prosedur Relaksasi. Fakultas Psikologi UGM : Yogyakarta.

 

Wallace, R.K. et al. 1971. A Wakeful Hypometabolic Physiologic State. American Journal of Physiology 221: 795-799

 

Woolfolk, R.L., McNulty T.F. 1983. Relaxation Treatment for Insomnia: A Componen Analysis. Journal of Consulitng and clinical Psychology. Vol 51 No 4, 495-503

4 Responses

  1. saya kagum dan ingin tau lbih jelas tenteng masalah religi yang anda bahas ada di bidang apa lagi selain dari insomnia.referensi buku-buku anda sulit untuk saya temukan karena daerah saya tidak terlalu lengkap.saya ada di daerah sumatera barat.

  2. Assalamualaikum
    saya emi, mahasiswi fakultas kedokteran UMY. saya sangat tertarik mengenai metode relaksasi dalam penelitian ini. yaitu relaksasi religius. kebetulan saya mengambil penelitian untuk tugas akhir dengan tema yang sama, yaitu relaksasi dalam mengurangi depresi pada lansia. tp dengan metode relaksasi mendengarkan musik. setelah menimbang banyak hal, sebagai umat muslim, musik bukanlah suatu cara yg pas untuk mendapatkan respon relaksasi. saya berniat untuk mengganti dengan relaksasi religius. namun, saya mash bingung bagaimana cara/ tekniknya dalam relaksasi tsb. bagaimana posisi subyek ketika melakukan relaksasi, apakah seperti posisi meditasi?apa yg harus dilakukan subyek dan berapa lama dalam sehari itu dilakukan??saya mohon dijelaskan tata cara relaksasi ini. karena saya coba mencari buku Benson sangat sulit. Mohon jawabannya segera….Jazakumulloh

  3. oya, mohon dijelaskan juga isi dari kaset relaksasi religius ini seperti apa? apakah peneliti membuat sendiri? kemudian, bagaimana instruksi dalam kaset tersebut?

  4. oke juga, so teknis relaksasinya gimana? saya lagi penelitian juga relaksasi untuk menurunkan stres dengan dzikir. Kalo Anda gimana prosedur penelitiannya? apa boleh saya tahu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: